KEAJAIBAN

oleh Salim A. Fillah

Iman itu terkadang menggelisahkan.
Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban.

Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Allah takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam!! Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

💌 Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Allah tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Allah kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba.
Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu?

Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil & ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)

Iklan

Kemanakah perginya Negara Islam?

Rangkuman Tabligh Akbar Peduli Palestina with Ust Bachtiar Nasir 27 Agt Masjid Al Barkah, Soetta (via streaming)

Sekilas ttg Perkembangan Turki
★ Target th 2035: Negara dgn Ekonomi terbaik di dunia.

★ Target 2075: Pusat peradaban Islam di dunia.

■Ciri pemimpin yg sukses seperti Erdogan, mampu memvisualisasikan cita” bangsanya di benak rakyat, shg rakyat bersemangat mencapainya. Semangat ini adl semangat Ottoman, bukan semangat sekularisme seperti yg terjadi di Indonesia.

Tabligh Akbar
■ Baca kembali At Tin utk memahami peta zaman di negeri Syam.

■ Para ulama sepakat bahwa klmpk di Gaza adl contoh umat terbaik.

■ Izuddin Al Qassam adl tentara terbaik dan plg profesional yg prnh ada (washington post). Mengapa? Krn mrk selalu bersiaga 24jam dan latihannya sgt keras.

■ Dgn segala keterbatasan, mrk mampu membuat dan mengoperasikan senjata” canggih, yg terbaru adl rudal home made M-75. Selain itu, mrk memiliki bunker” yg tidak terdeteksi satelit israel. Ini krn pedoman mrk adl Al Quran.

■ “Latihan berjihad kami lebih sulit drpd jihad itu sendiri,” ujar seorang tentara Al Qassam. Inilah mengapa mrk tak gentar saat perang sesungguhnya. Berbeda dgn pasukan israel byk yg bunuh diri atai sengaja menembak paha mrk spy diijinkan tidak berperang, pdhl mrk dibayar $200/hari.

■ Anak” SMP dan SMA di Gaza sgt dipompa semangat jihadnya scr fisik dan mental. Ini mengapa mrk menjadi incaran israel.

■ Sementara di Indonesia, kita justru menanamkan mentalitas instan pd anak” kita.

■ Contohlah para pahlawan dan syuhada kita: Diponegoro, Bung Tomo, Hasyim Azhari, Jend Soedirman. Indonesia tdk akan merdeka tanpa mental jihad.

■ Jika mental jihad hilang, Indonesia hanya akan menjadi BAGIAN dari negara lain yg menguasai Indonesia.

■ Notes for all company/legislative leaders: jadi pejabat hrs idealis, pasang tulisan “not for sale” di dada!

■ Kesederhanaan Presiden Ismail Haniya: aliran dana jutaan dolar beliau gunakan utk pertahanan militer. Sgt amanah>> alasan pertolongan Allah slalu hadir utk mereka.

■ Hanya di Gaza lah rakyat, militer, dan pemerintah bersatu. Bahkan di Suriah saja msh terpecah, aplg di Indonesia.

■ Bandingkan: kekayaan yg dimiliki Saudi, UEA, Mesir tidak mampu membuat mrk menciptakan senjata” seperti Palestina. Ini pentingnya persatuan dlm negara.

■ Dulu kami kira hanya Gaza yg dijajah, ternyata faktanya adl seluruh negara arab terjajah dan HANYA Gaza yg mampu melawan.

■ Mental Yahudi: penipu, suka mengkhianati perjanjian, dan membuat perjanjian hanya jika menguntungkan mrk.

■ Perkembangan rudal” Al Qassam: sudah mampu menembus kota” di Israel.

■ Pernyataan Imam Masjidil Haram yg hrs kita renungi dan jd pelajaran: ada ribuan hati yahudi di dlm tubuh muslim. Allah semakin menampakkan para pengkhianat, termasuk klmpk” yg sblmnya kita kira pendukung islam.

■ Dua negara arab yg konsisten mendukung perjuangan Palestina hanya Turki dan Qatar.

■ Pentingnya kesadaran jihad harta bagi kita semua. Allah akan mengganti setiap harta yg kita infakkan di jalanNya, dgn harta yg lebih baik.

■ Jangan takut miskin, krn kita tdk boleh suudzon thd Allah yg Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki.

KEAJAIBAN

oleh Salim A. Fillah

Iman itu terkadang menggelisahkan.
Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban.

Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Allah takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam!! Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

💌 Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Allah tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Allah kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba.
Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu?

Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil & ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)

BUMBU KEHIDUPAN

SEBUAH MASAKAN menjadi SEDAP karna DI MASUKKAN bumbu-bumbu yang “di pilih” oleh KOKI yang memasaknya.

Begitupun SEBUAH KEHIDUPAN, menjadi INDAH karena MASUKNYA ORANG-ORANG yang telah Allah “ijinkan” dalam kehidupan seseorang.

Ada yang MASUK seperti KUNYIT , walau penampilannya jelek, tapi sanggup memberi “WARNA INDAH” yang sulit di lupakan dan mempunyai KHASIAT yang tak sedikit.

Ada yang MASUK seperti BAWANG MERAH yang semakin lama bersamanya, semakin banyak “AIR MATA” yang tertumpah, Namun itu membersihkan kotoran.

Ada yang  seperti LADA, walau nampak kecil halus, tapi memberi “KEHANGATAN”.

Ada juga yg MASUK seperti CABAI , yang “menipu” dengan warnanya yang menarik tapi membuat “KERINGAT” bercucuran.

Sahabatku…
JAGALAH & JANGAN SIA-SIAKAN mereka yang MASUK memberi KEBAIKAN dalam hidupmu.

Serta SYUKURILAH & JANGANLAH MEMBENCI mereka yang MASUK “menyakiti” hidupmu, karena merekapun juga “berperan” MENYEDAPKAN pribadimu.

SEMUANYA itu telah Allah ijinkan “MASUK” untuk MERUBAH segala yg “tidak baik” yg ada dalam pribadimu, untuk kemudian MENJADI BAIK.
Subhanallah…
Dibalik suatu hal,pasti ada hikmahNya, yang tersimpan.

= Jangan Anggap Diri Anda Lebih Pintar =

Pada suatu hari, seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, “Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal”

“Masak, apa iya?” jawab pengusaha

Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan koin Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, “Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!”

Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, “Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil.”

Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, “Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?”

Benu pun tertawa kecil berkata, “Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari.”

********

Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya Alloh swt. yang mengetahuinya.

Sepasang ayah ibu menaiki panggung wisuda tahfidz Ma’had Ustmani, sudah dalam keadaan menangis.

Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Di panggung sudah berdiri ananda yang akan di wisuda sebagai hafidzah 30 juz. Di antara yang diwisuda, ada Ibu Ismah. Sekitar 4-5 tahun yang lalu mulai menghafal Alquran. Saat beliau bertemu dengan saya saat itu baru mulai menghafal Alquran. Begitu kata gurunya, KH Effendi Anwar, pimpinan Ma’had Tahfidz Ustmani.

Ibu Ismah ini, kemarin ikut diwisuda sebagai Hafidzah. Sudah menyelesaikan hafalan 16 juz. Sudah lulus tes tajwidnya juga. Kalau sekadar hafal, mungkin sudah langsung selesai 30 juz. Tapi ibu ini sekalian ngebenerin bacaan dan pemahamannya.

Bu Ismah lahir pada 1952 atau 62 tahun lalu. “Saya masih semangat nuntasin hafalan sampe30 juz. Nggak apa-apa saat selesai, umur saya barangkali nanti 70 tahun,” kata Bu Ismah. Bagaimana dengan kita?

Sehari-harinya untuk setoran hafalan dan membenarkan bacaannya, Bu Ismah, naik angkot sebanyak empat kali bolak-balik dari Cipayung ke Condet.

Di Ma’had Utsmani, Condet, wisuda 30 juz itu berat. Sebab selain benar hafalannya, juga kudu(harus) benar tajwid (bacaannya), dan sedikit memahami.

Selain Bu Ismah, Ananda Afifa juga berhasil melewati itu. Saat Ananda berdiri di panggung, bersama ayah dan ibunya yang sejak awal sudah menangis duluan sebelum naik panggung.

KH Effendi Anwar mengizinkan saya yang memberikan Ijazah Tahfidz. Gurunya beliau yang mengalungkan bunga. Tibalah saat yang mengharukan.

Kawan-kawan Ma’had Utsmani membuat replika mahkota. Ananda Afifa mengambil mahkota tersebut dan secara santun ia memakaikan ke atas kepala ayahnya.

Tangis ayah-ibu ini pecah. Ayah-ibu ini memeluk Afifa. Seperti ini nanti kejadian di Surga. Allah sendiri yang mewisuda dan memakaikan mahkota, kepada ayah-ibu yang memiliki anak seorang penghafal Alquran. Disaksikan bukan oleh manusia lagi, tapi seluruh malaikat-Nya.
Adapun anak-anak penghafal  Alquran, yang yatim, piatu, atau malah yatim piatu, alias tak berayah tak beribu, mereka pastinya lebih rindu lagi memakaikan mahkota penghafal Alquran untuk ayah ibu yang tak lagi berkumpul bersama mereka.

Sebagian anak-anak calon penghafal Alquran yang yatim, piatu, dan yang sudah yatim piatu, tidak seberuntung Ananda Afifa yang diwisuda, tapi masih bisa disaksikan ayah ibunya langsung, sebab masih hidup.

Sebagian dari anak-anak ini bahkan juga tidak mengenal dan tidak mengetahui seperti apa rupa ayah-ibu mereka. Tapi mereka tahu, Allah akan mengumpulkannya. Dan sekalian berkumpul di surga Allah. Langsung dibawakan mahkota para penghafal Alquran.

Semoga kita dipilih Allah juga, selain sama-sama berjuang untuk ikutan hafal Alquran, memiliki anak-anak keturunan dan keluarga penghafal Alquran, juga semoga bisa menjadi jalan mewujudkan anak-anak yatim, piatu, dan yang yatim piatu, menyiapkan, membawa, dan mempersembahkan mahkota penghafal Alquran, untuk ayah ibu mereka.

Sekarang, saatnya kita memulai. Nggak usah buru-buru, pelan-pelan saja, satu hari satu ayat, lalu istiqamah melaksanakannya. Insya Allah, 10 tahun akan hafal plus dengan maknanya. Dan Insya Allah, penghafal Alquuran akan mampu member syafaat 10 anggota keluarganya.
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Sepasang ayah ibu menaiki panggung wisuda tahfidz Ma’had Ustmani, sudah dalam keadaan menangis.

Di panggung sudah berdiri ananda yang akan di wisuda sebagai hafidzah 30 juz. Di antara yang diwisuda, ada Ibu Ismah. Sekitar 4-5 tahun yang lalu mulai menghafal Alquran. Saat beliau bertemu dengan saya saat itu baru mulai menghafal Alquran. Begitu kata gurunya, KH Effendi Anwar, pimpinan Ma’had Tahfidz Ustmani.

Ibu Ismah ini, kemarin ikut diwisuda sebagai Hafidzah. Sudah menyelesaikan hafalan 16 juz. Sudah lulus tes tajwidnya juga. Kalau sekadar hafal, mungkin sudah langsung selesai 30 juz. Tapi ibu ini sekalian ngebenerin bacaan dan pemahamannya.

Bu Ismah lahir pada 1952 atau 62 tahun lalu. “Saya masih semangat nuntasin hafalan sampe30 juz. Nggak apa-apa saat selesai, umur saya barangkali nanti 70 tahun,” kata Bu Ismah. Bagaimana dengan kita?

Sehari-harinya untuk setoran hafalan dan membenarkan bacaannya, Bu Ismah, naik angkot sebanyak empat kali bolak-balik dari Cipayung ke Condet.

Di Ma’had Utsmani, Condet, wisuda 30 juz itu berat. Sebab selain benar hafalannya, juga kudu(harus) benar tajwid (bacaannya), dan sedikit memahami.

Selain Bu Ismah, Ananda Afifa juga berhasil melewati itu. Saat Ananda berdiri di panggung, bersama ayah dan ibunya yang sejak awal sudah menangis duluan sebelum naik panggung.

KH Effendi Anwar mengizinkan saya yang memberikan Ijazah Tahfidz. Gurunya beliau yang mengalungkan bunga. Tibalah saat yang mengharukan.

Kawan-kawan Ma’had Utsmani membuat replika mahkota. Ananda Afifa mengambil mahkota tersebut dan secara santun ia memakaikan ke atas kepala ayahnya.

Tangis ayah-ibu ini pecah. Ayah-ibu ini memeluk Afifa. Seperti ini nanti kejadian di Surga. Allah sendiri yang mewisuda dan memakaikan mahkota, kepada ayah-ibu yang memiliki anak seorang penghafal Alquran. Disaksikan bukan oleh manusia lagi, tapi seluruh malaikat-Nya.
Adapun anak-anak penghafal  Alquran, yang yatim, piatu, atau malah yatim piatu, alias tak berayah tak beribu, mereka pastinya lebih rindu lagi memakaikan mahkota penghafal Alquran untuk ayah ibu yang tak lagi berkumpul bersama mereka.

Sebagian anak-anak calon penghafal Alquran yang yatim, piatu, dan yang sudah yatim piatu, tidak seberuntung Ananda Afifa yang diwisuda, tapi masih bisa disaksikan ayah ibunya langsung, sebab masih hidup.

Sebagian dari anak-anak ini bahkan juga tidak mengenal dan tidak mengetahui seperti apa rupa ayah-ibu mereka. Tapi mereka tahu, Allah akan mengumpulkannya. Dan sekalian berkumpul di surga Allah. Langsung dibawakan mahkota para penghafal Alquran.

Semoga kita dipilih Allah juga, selain sama-sama berjuang untuk ikutan hafal Alquran, memiliki anak-anak keturunan dan keluarga penghafal Alquran, juga semoga bisa menjadi jalan mewujudkan anak-anak yatim, piatu, dan yang yatim piatu, menyiapkan, membawa, dan mempersembahkan mahkota penghafal Alquran, untuk ayah ibu mereka.

Sekarang, saatnya kita memulai. Nggak usah buru-buru, pelan-pelan saja, satu hari satu ayat, lalu istiqamah melaksanakannya. Insya Allah, 10 tahun akan hafal plus dengan maknanya. Dan Insya Allah, penghafal Alquuran akan mampu member syafaat 10 anggota keluarganya.
Maman Sudiaman

IKAN SALMON DAN IKAN HIU

Pada menu ikan masakan Jepang, ikan salmon akan lebih enak untuk
dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan
hidup saat hendak diolah untuk disajikan.
Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan
salmon yg sudah diawetkan dgn es..
Itu sebabnya para nelayan Jepang selalu
memasukkan salmon tangkapannya ke suatu
kolam buatan agar dlm perjalanan menuju
daratan salmon² tsb tetap hidup.
Meski demikian pada kenyataannya banyak
salmon yg mati di dalam kolam buatan tsb..
Bagaimana cara mereka (nelayan Jepang)
menyiasatinya..??
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu
kecil di dalam kolam tsb.. Sungguh Ajaib..!
Hiu kecil tsb “memaksa” salmon² itu terus
bergerak agar jangan sampai dimangsa si hiu
kecil tsb..
Akibatnya banyak ikan salmon yg tetap hidup
& jumlah salmon yg mati justru menjadi
sangat sedikit..!
Diam membuat kita Mati…!
Bergerak membuat kita Hidup…!
Apa yg membuat kita Diam??
Saat tidak ada masalah dlm hidup dan saat
kita berada dlm zona nyaman..
Situasi seperti ini kerap membuat kita
terlena..
Begitu terlenanya sehingga kita tdk sadar
bahwa kita telah mati..!
Ironis, bukan..??
Apa yg membuat kita bergerak..??
Masalah..
Tekanan Hidup..
dan
Tekanan Kerja..
Saat masalah datang, secara otomatis naluri
kita membuat kita bergerak aktif dan
berusaha mengatasi semua pergumulan hidup
itu..
Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan
potensi diri kitapun menjadi berkembang luar
biasa..
Ingatlah, bahwa kita akan bisa belajar banyak
dlm hidup ini bukan pada saat keadaan
nyaman, tapi justru pada saat kita
menghadapi badai hidup..
Itu sebabnya syukurilah kehadiran “hiu kecil”
yg terus memaksa kita utk bergerak dan tetap
survive..Never give up
Semangathh…. Alloh bersama langkah kita, insya-Alloh… Aamiin.
(Jalan Hidayah)

Dunia Sepi Tanpa Pernikahan, Dunia Hambar Tanpa Kasih Sayang

Sebuah kata yang sering didengar dan dirasa…
Yaitu, Cinta… Yaa Cinta…

Ada yang senang dan bahagia mendengar dan merasakannya…

Juga ada sebagian Insan yang membenci dan merasa jengkel dihatinya bila mendengar dan merasa rona Cinta…

Yaa… Cinta..
Cinta adalah anugerah sekaligus rahasia Alloh Subhaanahu wa Ta’ala, sedangkan mata adalah penuntun dan hati adalah pendorongnya. Nikmatnya pandangan hanya dipunyai Mata, sedangkan kenikmatan pencapaian hanya dipunyai hati dan pandangan.

Keduanya adalah kawan sejati yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.

Gelisah, duka dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia.

Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.

Duka yang datang karena kerinduan yang sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada.

Jiwa yang rapuh bisa berkisah pada alam serta isinya, bertanya, di manakah pasangan jiwanya berada.

Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan bertemu pasangan dan belahan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah dari manusia?

Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula jika setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian.

Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang shalih dan shalihah. Dengan Izin Allohu Jalla wa ‘Alaa..

Duhai dunia, betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumah tangganya.

Alloh Subhaanahu wa Ta’ala telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga ketaatan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena Jihad fii sabilillah. Alloohu Akbar..!!

Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain yang jauh di bawah umurnya?

Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang punya komitmen menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan sang pujaan dan kekasih hati?

Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan seorang buah kasih dengan sang suami?

Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

Atau, tidakkah kita merasa kecemburuan pandangnya melihat pasangan suami istri yang mesra berdua penuh kebahagiaan?

Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk “Dunia Fana dan pernak perniknya” ini saja, karena sebenarnya masih ada negeri akhirat, yang masih diselimuti misteri Illahi.

Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, In Syaa Alloh akan dipertemukan di akhirat sana.

Selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujianNya yang telah menetapkan dirinya sebagai “Lajang Permanen di Dunia Fana”.

Mungkin “sang pangeran” pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

Janganlah dirimu bersedih lalu menangis di setiap penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa belahan hatinya.

Menangislah karena air mata permohonan kepadaNya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa.

Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Alloh Subhaanahu wa Ta’ala.

Siramlah selalu hati ini dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian yang terus panjang.

Wahai jiwa, bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari ke mana.

Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskanNya, hanya ikhtiar pembangkit motivasi jiwa.

Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya..?

Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang..?

Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah wahai kawan, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.

Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Songsonglah hari bahagia nan suci. Meriahkan dunia ini dengan pernikahan.

Wallahu’alam..

Tulisan ini Ku posting untuk seseorang yang hanya Ku titipkan kepada Allohu Ta’ala agar semoga Alloh mendekatkan jodohnya dan meng-Istiqomahkan ia dijalan Nya. Dan untuk seluruh kaum Muslimin-Muslimat yang berkenan membaca tulisan ini.

Dikutip dan disempurnakan dari artikel eramuslim.

♥ Abu Fauzan Al Junaedy – Al Faqir Ilaa Maghfiroti Robbihil Kariim ♥

KUBERITAHU ENGKAU BAGAIMANA AKU HAMPIR DIPERBUDAK OLEH HANDPHONE KU

Untuk sebuah handphone , yang selalu kubawa ke manapun, aku selalu memastikan tiga hal ,
1. pertama : baterei nya selalu terisi
2. kedua : pulsanya kupastikan cukup menelpon
3. ketiga : koneksi internetnya bisa maksimal.

Dan untuk itu aku selalu membawa :
1. charger handphone
2. uang untuk beli pulsa
3. dan belakangan ingin punya powerbank, alat penyimpan daya listrik, jika sewaktu waktu charger tidak bisa digunakan.

Mungkin juga kebiasaanku ini, tidak jauh berbeda denganmu.
Tapi belakangan aku menyadari …
Jika aku amat perhatian , membawa charger, uang dan powerbank dan sebagainya,agar selalu tersambung ke semua keluarga, kolega kerja, serta semua teman temanku……

Mestinya aku lebih serius , mengurusi KONEKSIKU dengan TUHAN ku.
Dan seharusnya aku lebih khawatir kehabisan daya kekuatan ku, karena sudah pasti aku tidak bisa TERSAMBUNG dengan TUHAN ku.

Sementara untuk sekedar terhubung dengan semua orang, aku mati-matian mencolokkan charger ku ke sumber listrik. Mestinya aku lebih perhatian, membeli apapun yang kubutuhkan agar senantiasa TERHUBUNG dengan TUHAN ku.

Dan selayaknya ini jauh lebih kuperhatikan, kalau untuk menelpon saja, aku selalu royal mengeluarkan demi mendapatkan pulsa
handphone ku. Mestinya aku jauh lebih serius, mengupayakan berbagai cara, agar DIMANAPUN aku selalu TERKONEKSI
dengan TUHAN ku,nsebagaimana aku selalu mencari KONEKSI INTERNET ku di berbagai tempat, saat aku ingin mengurus seluruh urusan hidupku.

Kupikir pikir aku ini keterlaluan…Semoga engkau tidak seperti diriku..

By : ust. Akhmad Arqom, Sby