Hanya 2 ribu ya?

Inikah yang mereka bilang “hanya 2ribu?”
Ini adalah sepenggal kisah yang diceritakan oleh Ibu Ernydar Irfan, yang
saya baca dari sharing di wall bang Harry Sufehmi . Saya mengedit tanda
baca, tanpa mengubah isinya. Semoga menginspirasi.
Miskin Tidak Harus Mengemis
Hari ini sesosok wanita tua mengetuk pintu kaca toko,
“Bu… beli kue saya… belum laku satupun… kalau saya sudah ada yang
laku, saya enggak berani ketuk kaca toko ibu… ”
Saya persilakan dia masuk dan duduk. Segelas air dan beberapa butir
kurma saya sajikan untuknya.
“Ibu bawa kue apa?” tanya saya
“Gemblong, getuk, bintul, gembleng bu” jawabnya
Saya tersenyum dan berkata,
“Saya nanti beli kue ibu… tapi ibu duduk dulu, minum dulu, istirahat dulu,
muka ibu sudah pucat”
Dia mengangguk dan melanjutkan bicara,
“Kepala saya sakit bu.. pusing, tapi harus cari uang. Anak saya sakit,
suami saya sakit, di rumah hari ini beras udah gak ada sama sekali.
Makanya saya paksain jualan”, katanya sambil memegang keningnya.
Air matanya mulai jatuh. Saya cuma bisa memberinya sehelai tisu dan dia
melanjutkan bicara,
“Sekarang makan makin susah, bu. Kemarin saja beras gak kebeli.
Apalagi sekarang. Katanya bensin naik. Apa-apa serba naik. Saya udah 3
bulan cuma bisa bikin bubur. Kalau masak nasi gak cukup. Hari ini jualan
gak laku, nawarin orang katanya gak jajan dulu. Apa-apa pada mahal.
Katanya uang belanjanya pada enggak cukup.”
“Anak ibu sakit apa?” saya bertanya.
“Nggak tau ibu, batuknya berdarah”, saya terpana.
“Ibu.. ibu harus bawa anak ibu ke puskesmas, kan ada BPJS?”
Dia cuma tertunduk, lalu melanjutkan bicara,
“Saya bawa anak saya pakai apa bu? gendong gak kuat, jalannya jauh,
naik ojek gak punya uang”
“Ini ibu kue bikin sendiri?” tanya saya
“Enggak bu, ini saya ngambil ke orang”, jawabnya.
“Terus ibu penghasilannya dari sini aja?” dia mengangguk lemah.
“Berapa ibu dapet setiap hari?”
“Nggak pasti bu, ini kue untungnya 100-300 perak, bisa dapet 4ribu -12
ribu paling banyak.” jawabnya
Kali ini air mata saya yang mulai mengalir.
“Ibu pulang jam berapa jualan?”
“Jam 2. Saya gak bisa lama lama bu, soalnya uangnya buat beli beras.
Suami sama anak saya belum makan. Saya gak mau minta minta, saya
gak mau nyusahin orang.”
“Ibu, kue-kue ini tolong ibu bagi-bagi di jalan. Ini beli beras buat 1 bulan,
ini buat 10x bulak balik naik ojek bawa anak ibu berobat. Ini buat modal
ibu jualan sendiri. ibu sekarang pulang saja. Bawa kurma ini buat
pengganjal lapar.”
Ibu itu menangis. Dia pindah dari kursi ke lantai, dia bersujud. Tak
sepatah katapun keluar, lalu dia kembalikan uang saya.
“Kalau ibu mau beli. Belilah kue saya. Tapi selebihnya enggak bu. Saya
malu.”
Saya pegang erat tangannya.
“Ibu… ini bukan buat ibu. Tapi buat ibu saya. Saya melakukan bakti ini
untuk ibu saya, agar dia merasa tidak sia sia membesarkan dan mendidik
saya. Tolong di terima.”
Saya bawa keranjang jualannya. Saat itu saya memegang lengannya dan
saya menyadari dia demam tinggi.
“Ibu pulang ya…”
Dia cuma bercucuran airmata lalu memeluk saya dan berkata
“Bu.. Saya gak mau kesini lagi. Saya malu. Ibu gak doyan kue jualan
saya. Ibu cuma kasihan sama saya… saya malu….”
Saya cuma bisa tersenyum dan berkata
“Ibu… Saya doyan kue jualan ibu, tapi saya sedang kenyang… Sementara
di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan.
Sekarang ibu pulang yaa…”
Saya bimbing dia menyeberang jalan, lalu saya naikkan angkot… Dia
terus berurai air mata…
Lalu saya masuk lagi ke toko, mebuka buka FB saya dan membaca
status orang orang berduit yang menjijikan. ….the show must go on…

Iklan