Lelaki adalah Pemimpin bagi Wanita

ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝُ ﻗَﻮَّﺍﻣُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ
ﺑِﻤَﺎ ﻓَﻀَّﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ
ﺑَﻌْﺾٍ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ
ﻓَﺎﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕُ ﻗَﺎﻧِﺘَﺎﺕٌ ﺣَﺎﻓِﻈَﺎﺕٌ
ﻟِﻠْﻐَﻴْﺐِ ﺑِﻤَﺎ ﺣَﻔِﻆَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﻟﻼﺗِﻲ
ﺗَﺨَﺎﻓُﻮﻥَ ﻧُﺸُﻮﺯَﻫُﻦَّ ﻓَﻌِﻈُﻮﻫُﻦَّ
ﻭَﺍﻫْﺠُﺮُﻭﻫُﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﻀَﺎﺟِﻊِ
ﻭَﺍﺿْﺮِﺑُﻮﻫُﻦَّ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﻃَﻌْﻨَﻜُﻢْ ﻓَﻼ
ﺗَﺒْﻐُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺳَﺒِﻴﻼ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠِﻴًّﺎ ﻛَﺒِﻴﺮًﺍ ‏( ٣٤‏)

Artinya:
Kaum laki-laki adalah pemimpin [1] bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) [2] , dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri [3] ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka) [4] . Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz [5] , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka[6] , tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang) [7] , dan (kalau perlu) pukullah mereka[8] . Tetapi, jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan
untuk menyusahkannya [9] . Sesungguhnya Allah Mahatinggi[10] lagi Mahabesar[12] .(An-Nisa’ :34)

Keterangan:

[1] Yakni berkuasa. Mereka berhak
mengatur wanita, menekan mereka
untuk memenuhi hak Allah, seperti
menjaga yang fardhu dan
menghindarkan bahaya dari mereka.
Kaum laki-laki juga pemimpin kaum
perempuan dalam arti yang
memberi nafkah, pakaian dan
tempat tinggal.

[2] Kelebihan laki-laki di atas
perempuan dapat dilihat dari
beberapa sisi, di antaranya karena
kewalian khusus dimiliki laki-laki,
kenabian dan kerasulan juga khusus
bagi laki-laki, dikhususkan bagi
mereka beberapa ibadah seperti
jihad, shalat Jum’at dsb. Demikian
juga dilebihkannya laki-laki dalam
hal akal, kesabaran dan kekuatan
yang tidak dimiliki kaum
perempuan.

[3] Maksudnya taat kepada
suaminya meskipun suaminya
sedang tidak ada, ia memelihara
rahasia dan harta suaminya.

[4] Maksudnya Allah telah
mewajibkan kepada suami untuk
mempergauli istrinya dengan baik.

[5] Yakni nampak tanda-tanda
nusyuz. Nusyuz adalah
meninggalkan kewajiban bersuami
isteri. nusyuz dari pihak isteri
seperti meninggalkan rumah tanpa
izin suaminya.

[6] Terangkanlah kepada mereka
hukum menaati suami, mendorong
mereka untuk taat, takutkanlah
mereka dengan siksaan Allah jika
durhaka kepada suaminya.

[7] Yakni jika mereka telah
menampakkan nusyuz. Dengan
tidak tidur bersamanya dan tidak
menggaulinya sekedar agar tujuan
dapat tercapai.

[8] Dengan pukulan yang tidak
keras, jika pisah ranjang tidak
membut mereka berhenti dari
nusyuz.

[9] Maksudnya untuk memberi
pelajaran kepada istri yang
dikhawatirkan pembangkangannya
harus dimulai dengan memberi
nasihat. Jika nasihat tidak
bermanfaat, barulah dipisahkan dari
tempat tidur mereka, jika tidak
bermanfaat juga barulah dibolehkan
memukul mereka dengan pukulan
yang tidak meninggalkan bekas atau
pukulan yang keras. Jika cara
pertama ada manfaatnya, janganlah
digunakan cara yang lain dan
seterusnya. Ada pula yang
menafsirkan ” Tetapi, jika mereka
menaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari alasan untuk
menyusahkannya” yakni janganlah
membahas masalah yang telah lalu,
mencari-cari aib yang jika dibahas
malah menimbulkan madharat dan
keburukan.

[10] Yakni memiliki ketinggian
secara mutlak dengan segala sisi dan
I’tibarat (segi); Dia Tinggi dzat-Nya,
Dia tinggi kedudukan-Nya dan
Tinggi pula kekuasaan-Nya.

[11] Maha besar adalah Yang tidak
ada yang lebih besar dan lebih
agung daripada-Nya, yang besar dzat
dan sifat-Nya. Oleh karena itu,
takutlah terhadap siksaan-Nya jika
kamu menzalimi mereka.

Allahu A’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s