Lelaki adalah Pemimpin bagi Wanita

ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝُ ﻗَﻮَّﺍﻣُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ
ﺑِﻤَﺎ ﻓَﻀَّﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ
ﺑَﻌْﺾٍ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ
ﻓَﺎﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕُ ﻗَﺎﻧِﺘَﺎﺕٌ ﺣَﺎﻓِﻈَﺎﺕٌ
ﻟِﻠْﻐَﻴْﺐِ ﺑِﻤَﺎ ﺣَﻔِﻆَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﻟﻼﺗِﻲ
ﺗَﺨَﺎﻓُﻮﻥَ ﻧُﺸُﻮﺯَﻫُﻦَّ ﻓَﻌِﻈُﻮﻫُﻦَّ
ﻭَﺍﻫْﺠُﺮُﻭﻫُﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﻀَﺎﺟِﻊِ
ﻭَﺍﺿْﺮِﺑُﻮﻫُﻦَّ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﻃَﻌْﻨَﻜُﻢْ ﻓَﻼ
ﺗَﺒْﻐُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺳَﺒِﻴﻼ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠِﻴًّﺎ ﻛَﺒِﻴﺮًﺍ ‏( ٣٤‏)

Artinya:
Kaum laki-laki adalah pemimpin [1] bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) [2] , dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri [3] ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka) [4] . Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz [5] , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka[6] , tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang) [7] , dan (kalau perlu) pukullah mereka[8] . Tetapi, jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan
untuk menyusahkannya [9] . Sesungguhnya Allah Mahatinggi[10] lagi Mahabesar[12] .(An-Nisa’ :34)

Keterangan:

[1] Yakni berkuasa. Mereka berhak
mengatur wanita, menekan mereka
untuk memenuhi hak Allah, seperti
menjaga yang fardhu dan
menghindarkan bahaya dari mereka.
Kaum laki-laki juga pemimpin kaum
perempuan dalam arti yang
memberi nafkah, pakaian dan
tempat tinggal.

[2] Kelebihan laki-laki di atas
perempuan dapat dilihat dari
beberapa sisi, di antaranya karena
kewalian khusus dimiliki laki-laki,
kenabian dan kerasulan juga khusus
bagi laki-laki, dikhususkan bagi
mereka beberapa ibadah seperti
jihad, shalat Jum’at dsb. Demikian
juga dilebihkannya laki-laki dalam
hal akal, kesabaran dan kekuatan
yang tidak dimiliki kaum
perempuan.

[3] Maksudnya taat kepada
suaminya meskipun suaminya
sedang tidak ada, ia memelihara
rahasia dan harta suaminya.

[4] Maksudnya Allah telah
mewajibkan kepada suami untuk
mempergauli istrinya dengan baik.

[5] Yakni nampak tanda-tanda
nusyuz. Nusyuz adalah
meninggalkan kewajiban bersuami
isteri. nusyuz dari pihak isteri
seperti meninggalkan rumah tanpa
izin suaminya.

[6] Terangkanlah kepada mereka
hukum menaati suami, mendorong
mereka untuk taat, takutkanlah
mereka dengan siksaan Allah jika
durhaka kepada suaminya.

[7] Yakni jika mereka telah
menampakkan nusyuz. Dengan
tidak tidur bersamanya dan tidak
menggaulinya sekedar agar tujuan
dapat tercapai.

[8] Dengan pukulan yang tidak
keras, jika pisah ranjang tidak
membut mereka berhenti dari
nusyuz.

[9] Maksudnya untuk memberi
pelajaran kepada istri yang
dikhawatirkan pembangkangannya
harus dimulai dengan memberi
nasihat. Jika nasihat tidak
bermanfaat, barulah dipisahkan dari
tempat tidur mereka, jika tidak
bermanfaat juga barulah dibolehkan
memukul mereka dengan pukulan
yang tidak meninggalkan bekas atau
pukulan yang keras. Jika cara
pertama ada manfaatnya, janganlah
digunakan cara yang lain dan
seterusnya. Ada pula yang
menafsirkan ” Tetapi, jika mereka
menaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari alasan untuk
menyusahkannya” yakni janganlah
membahas masalah yang telah lalu,
mencari-cari aib yang jika dibahas
malah menimbulkan madharat dan
keburukan.

[10] Yakni memiliki ketinggian
secara mutlak dengan segala sisi dan
I’tibarat (segi); Dia Tinggi dzat-Nya,
Dia tinggi kedudukan-Nya dan
Tinggi pula kekuasaan-Nya.

[11] Maha besar adalah Yang tidak
ada yang lebih besar dan lebih
agung daripada-Nya, yang besar dzat
dan sifat-Nya. Oleh karena itu,
takutlah terhadap siksaan-Nya jika
kamu menzalimi mereka.

Allahu A’lam

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

ﻗَﺎﻝَ
ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﺇِﺫَﺍ ﻋَﺎﺩَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ
ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢَ ﻣَﺸَﻰ ﻓِﻲْ ﺧِﺮَﺍﻓَﺔِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ
ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺠْﻠِﺲَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺟَﻠَﺲَ ﻏَﻤَﺮَﺗْﻪُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔُ،
ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻏُﺪْﻭَﺓً ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺳَﺒْﻌُﻮْﻥَ ﺃَﻟْﻒَ
ﻣَﻠَﻚٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻤْﺴِﻲَ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺴَﺎﺀً ﺻَﻠَّﻰ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺳَﺒْﻌُﻮْﻥَ ﺃَﻟْﻒَ ﻣَﻠَﻚٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺼْﺒِﺢَ .149 .

Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda: “Apabila
seorang laki-laki berkunjung
kepada saudaranya yg muslim
maka seakan-akan dia berjalan di
kebun Surga hingga duduk.
Apabila sudah duduk maka
dituruni rahmat dgn deras.
Apabila berkunjung di pagi hari
maka tujuh puluh ribu malaikat
akan mendoakannya agar
mendapat rahmat hingga sore.
Apabila berkunjung di sore hari
maka tujuh puluh ribu malaikat
akan mendoakannya agar diberi
rahmat hingga pagi.” (167)(167)
HR. At-Tirmidzi Ibnu Majah
Ahmad dan lihat Shahih Ibnu
Majah 1/244 dan Shahih At-
Tirmidzi 1/286 .

Do’a kepada orang sakit

ﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﻃَﻬُﻮْﺭٌ ﺇِﻥْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠﻪُ .147 .

“ Tidak mengapa semoga sakitmu
ini membuat dosamu bersih insya
Allah.” (165)

-148 ﺃَﺳْﺄَﻝ
ُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢَ
ﺭَﺏَّ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ ﺃَﻥْ ﻳَﺸْﻔِﻴَﻚَ. 148 .

“ Aku mohon kepada Allah Yang
Maha Agung Tuhan yg menguasai
arasy yang agung agar
menyembuhkan
penyakitmu” (166)(165) HR. Al-
Bukhari dgn Fathul Bari 10/ 118.
(166)

“Tidaklah seorang hamba
Muslim mengunjungi orang sakit
yg belum datang ajalnya lalu
membaca sebanyak tujuh kali: …
… kecuali ia pasti disembuhkan
HR. At-Tirmidzi Abu Dawud dan
lihat Shahih At-Tirmidzi 2/210
dan Shahihul Jami’ 5/180.50

Silaturahmi Memanjangkan Umur

Al-Imaam Al-Bukhaariy
rahimahullah berkata :

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﻳَﻌْﻘُﻮﺏَ ﺍﻟْﻜِﺮْﻣَﺎﻧِﻲُّ،
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺣَﺴَّﺎﻥُ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻳُﻮﻧُﺲُ، ﻗَﺎﻝَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ
ﻫُﻮَ ﺍﻟﺰُّﻫْﺮِﻱُّ، ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﺭَﺿِﻲَ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ، :َﻝﺎَﻗ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ :ُﻝﻮُﻘَﻳ ” ﻣَﻦْ
ﺳَﺮَّﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﺒْﺴَﻂَ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺭِﺯْﻗِﻪِ، ﺃَﻭْ ﻳُﻨْﺴَﺄَ ﻟَﻪُ
ﻓِﻲ ﺃَﺛَﺮِﻩِ، ﻓَﻠْﻴَﺼِﻞْ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ”

Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Abi Ya’quub Al-
Kirmaaniy[1] : Telah menceritakan
kepada kami Hassaan[2] : Telah
menceritakan kepada kami Yuunus
[3] : Telah berkata Muhammad –
ia adalah Az-Zuhriy[4] – , dari
Anas bin Maalik radliyallaahu
‘anhu , ia berkata : Aku mendengar
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam bersabda : “ Barangsiapa
yang suka diluaskan rizkinya dan
ditangguhkan kematiannya,
hendaklah ia menyambung
silaturahim” [Shahiih Al-Bukhaariy
no. 2067].
Sanad ini hasan, namun shahih
dengan keseluruhan jalannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan
2/181-182 no. 439 dengan sanad
hasan, dengan lafadh :

ﻣَﻦْ ﺃَﺣَﺐَّ ﺃَﻥْ ﻳُﺒْﺴَﻂَ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺭِﺯْﻗِﻪِ، ﻭَﻳُﻨْﺴَﺄَ
ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺃَﺟَﻠِﻪِ، ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ، ﻭَﻟْﻴَﺼِﻞْ “
ﺭَﺣِﻤَﻪُ

Barangsiapa yang suka diluaskan
rizkinya dan ditangguhkan
ajalnya, hendaklah ia bertaqwa
kepada Allah dan menyambung
silaturahim”.

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪِ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻮَﺍﺭِﺙِ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ
ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﻣِﻬْﺰَﻡٍ، ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦِ
ﺍﻟْﻘَﺎﺳِﻢِ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺳِﻢُ، ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ، ﺃَﻥّ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ :ﺎَﻬَﻟ
” ﺇِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺣَﻈَّﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮِّﻓْﻖِ، ﻓَﻘَﺪْ
ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺣَﻈَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ،
ﻭَﺻِﻠَﺔُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢِ ﻭَﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﺨُﻠُﻖِ ﻭَﺣُﺴْﻦُ
ﺍﻟْﺠِﻮَﺍﺭِ ﻳَﻌْﻤُﺮَﺍﻥِ ﺍﻟﺪِّﻳَﺎﺭَ، ﻭَﻳَﺰِﻳﺪَﺍﻥِ ﻓِﻲ
” ﺍﻟْﺄَﻋْﻤَﺎﺭِ

Telah menceritakan kepada kami
‘Abdush-Shamad bin ‘Abdil-
Waarits[5] : Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin
Mihzam[6], dari ‘Abdurrahmaan
bin Al-Qaasim[7] : Telah
menceritakan kepada kami Al-
Qaasim[8], dari ‘Aaisyah :

Bahwasannya Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda
kepadanya : “Barangsiapa yang
diberikan bagian dari kelemah-
lembutan, sungguh ia telah
diberikan bagian kebaikan dari
dunia dan akhirat. Menyambung
silaturahim, akhlaq yang baik, dan
bertetangga yang baik akan
memakmurkan negeri-negeri dan
menambah umur-
umur ” [Diriwayatkan oleh Ahmad,
6/159].
Sanadnya shahih.

Allahu A’lam

NOMOR WHATSAPP (WA) PARA ULAMA DUNIA

Ini zaman canggih wahai saudaraku.
Anda tidak perlu susah-susah lagi jikalau ingin bertanya kepada para ulama, sebab sekarang mereka sudah punya WhatsApp. Anda tingga; bertanya, dan Anda tidak lama setelahnya akan mendapatkannya jawabannya.
Inilah nomor WhatsApp beberapa ulama besar:

Syeikh Khalid al-Musyaiqih: 0505148076
Syeikh Muhammad al-Habdan: 0505999336
Syeikh Umar al-Id: 0505457377
Syeikh Ibrahim Bu Biyisth: 0504921723
Syeikh Ibrahim al-Khudhairy: 0505441178
Syeikh Musaid adDakhil: 0505499613
Syeikh Muhammad al-Uraify: 0503009941/0566866567
Syeikh Thariq al-Hawwas: 0505918631
Syeikh Shalih al-Manshur: 050133163
Syeikh Abdurrahman al-Makhdub: 0555100281

Syeikh al-Badr al-Masyary: 0505409983
Syeikh Saad al-Ghamidy: 0504832105
Syeikh Aidh al-Qarny: 0504222000
Syeikh Abdullah al-Qar’awy: 0505150497
Syeikh Abdurrahman al-Barrak: 0505227228
Syeikh Sulaiman al-Jubailan: 0505144148
Syeikh Abdul Aziz asy-Syawy: 0505130234
Syeikh Ibrahim ad-Duwaisy: 0505136512
Syeikh Ibrahim az-Zayyat: 0555852638
Syeikh Abdullah al-Ju’aytsan: 0505154240

Syeikh Shalih al-Mughamisy: 0505319008
Syeikh Khalil Abu Ibrahim: 0565354546
Syeikh Salman al-Audah: 0504250250
Syeikh Salman al-Asmary: 0566919010
Syeikh Raid al-Anzy: 0541888075
Syeikh Umar al-Wahhaby: 0551266991

Maa syaa Allah, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Jangan abaikan. Bagikan kepada yang lainnya, agar mereka juga mengetahuinya.

Share dari Ust Denis Arifandi Pakih Sati (DA PAKIH SATI)
Salam dari Jogjakarta

*gunakan bahasa arab yah

Al-Qur’an Itu Amanah

Amanah yang diberi sebagai petunjuk kita menapaki jalan berliku di dunia, berupa
Pendengaranmu…
Penglihatanmu…
Dan hati nuranimu..

Dengan mendengar kita mendapatkan ilmu..
Dengan melihat ilmu menjadi nyata..
Dengan hati, semua akan terekam..
Menjadi “sakitnya tuch disini”
Atau…
“Bahagianya tuch disini”

Kenapa bisa SAKIT…?
Karena kenyataan tak sesuai dengan harapan atau bahkan angan

Kenapa bisa BAHAGIA…?
Karena keyakinan yang begitu besar ada Allah yang MAHA mengatur segalanya
Ada Allah yang
“Maha Pengasih Maha Penyayang”
Ada Allah yang tidak membiarkan kita dilepas ke dunia begitu saja…
Tapi ada ” PANDUAN”
Untuk dipahami dan dipelajari, sebuah pedoman hidup..

Apa…?
Benar apakah itu…?
Ialah Al Quran.

Bukan hanya untuk di vokal kan.
Bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban.

Tapi benar-benar petunjuk untuk kita menjalani hidup.

Tidak percaya…
Coba kita baca semua.. masalah apa yang tidak dijelaskan di sana?
Ataukah belum pernah SEKALIPUN tuntaskan membaca makna quran?

Bukankah eksistensi diri belajar adalah ujiannya untuk kenaikan tingkat belajar.

Maka fasilitas ujian hidup akan dapat dikerjakan
Saat kita gemar belajar dan beramal.
Belajar dan beramal apa…?

“AL-QURAN” ya.. itu AL-QURAN

Bagaimana akan tahu bagaimana jalani hidup, jika buku panduanya hanya di vokalkan.

Bukankah Allah tidak akan mengubah sebuah kaum
Jika ia belum berusaha mengubahnya

Wahyu pertama adalah kata
“IQRO” Bacalah.
Tapi saat itu Nabi Muhammad tidak dapat membaca

Pesan apa disana?
Jangan hanya baca yang tersurat, tetapi juga baca dan pelajari yang tersirat

Allahuakbar…!!!

Semangat menjadi Artis terbaiknya Allah.
Duhai sahabat ODOJ

Allah sutradaranya
Rasulullah Astradanya
Al’quran Naskahnya
Dunia panggung Actionya
Manusia Artisnya
Piala Citranya Syurga

Full Semangat…!!!

Shiwy M Div.Training Motivasi ODOJ

Hanya 2 ribu ya?

Inikah yang mereka bilang “hanya 2ribu?”
Ini adalah sepenggal kisah yang diceritakan oleh Ibu Ernydar Irfan, yang
saya baca dari sharing di wall bang Harry Sufehmi . Saya mengedit tanda
baca, tanpa mengubah isinya. Semoga menginspirasi.
Miskin Tidak Harus Mengemis
Hari ini sesosok wanita tua mengetuk pintu kaca toko,
“Bu… beli kue saya… belum laku satupun… kalau saya sudah ada yang
laku, saya enggak berani ketuk kaca toko ibu… ”
Saya persilakan dia masuk dan duduk. Segelas air dan beberapa butir
kurma saya sajikan untuknya.
“Ibu bawa kue apa?” tanya saya
“Gemblong, getuk, bintul, gembleng bu” jawabnya
Saya tersenyum dan berkata,
“Saya nanti beli kue ibu… tapi ibu duduk dulu, minum dulu, istirahat dulu,
muka ibu sudah pucat”
Dia mengangguk dan melanjutkan bicara,
“Kepala saya sakit bu.. pusing, tapi harus cari uang. Anak saya sakit,
suami saya sakit, di rumah hari ini beras udah gak ada sama sekali.
Makanya saya paksain jualan”, katanya sambil memegang keningnya.
Air matanya mulai jatuh. Saya cuma bisa memberinya sehelai tisu dan dia
melanjutkan bicara,
“Sekarang makan makin susah, bu. Kemarin saja beras gak kebeli.
Apalagi sekarang. Katanya bensin naik. Apa-apa serba naik. Saya udah 3
bulan cuma bisa bikin bubur. Kalau masak nasi gak cukup. Hari ini jualan
gak laku, nawarin orang katanya gak jajan dulu. Apa-apa pada mahal.
Katanya uang belanjanya pada enggak cukup.”
“Anak ibu sakit apa?” saya bertanya.
“Nggak tau ibu, batuknya berdarah”, saya terpana.
“Ibu.. ibu harus bawa anak ibu ke puskesmas, kan ada BPJS?”
Dia cuma tertunduk, lalu melanjutkan bicara,
“Saya bawa anak saya pakai apa bu? gendong gak kuat, jalannya jauh,
naik ojek gak punya uang”
“Ini ibu kue bikin sendiri?” tanya saya
“Enggak bu, ini saya ngambil ke orang”, jawabnya.
“Terus ibu penghasilannya dari sini aja?” dia mengangguk lemah.
“Berapa ibu dapet setiap hari?”
“Nggak pasti bu, ini kue untungnya 100-300 perak, bisa dapet 4ribu -12
ribu paling banyak.” jawabnya
Kali ini air mata saya yang mulai mengalir.
“Ibu pulang jam berapa jualan?”
“Jam 2. Saya gak bisa lama lama bu, soalnya uangnya buat beli beras.
Suami sama anak saya belum makan. Saya gak mau minta minta, saya
gak mau nyusahin orang.”
“Ibu, kue-kue ini tolong ibu bagi-bagi di jalan. Ini beli beras buat 1 bulan,
ini buat 10x bulak balik naik ojek bawa anak ibu berobat. Ini buat modal
ibu jualan sendiri. ibu sekarang pulang saja. Bawa kurma ini buat
pengganjal lapar.”
Ibu itu menangis. Dia pindah dari kursi ke lantai, dia bersujud. Tak
sepatah katapun keluar, lalu dia kembalikan uang saya.
“Kalau ibu mau beli. Belilah kue saya. Tapi selebihnya enggak bu. Saya
malu.”
Saya pegang erat tangannya.
“Ibu… ini bukan buat ibu. Tapi buat ibu saya. Saya melakukan bakti ini
untuk ibu saya, agar dia merasa tidak sia sia membesarkan dan mendidik
saya. Tolong di terima.”
Saya bawa keranjang jualannya. Saat itu saya memegang lengannya dan
saya menyadari dia demam tinggi.
“Ibu pulang ya…”
Dia cuma bercucuran airmata lalu memeluk saya dan berkata
“Bu.. Saya gak mau kesini lagi. Saya malu. Ibu gak doyan kue jualan
saya. Ibu cuma kasihan sama saya… saya malu….”
Saya cuma bisa tersenyum dan berkata
“Ibu… Saya doyan kue jualan ibu, tapi saya sedang kenyang… Sementara
di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan.
Sekarang ibu pulang yaa…”
Saya bimbing dia menyeberang jalan, lalu saya naikkan angkot… Dia
terus berurai air mata…
Lalu saya masuk lagi ke toko, mebuka buka FB saya dan membaca
status orang orang berduit yang menjijikan. ….the show must go on…

Ucapan Masya Allah yang sering tertukar dengan Subhanallah

Ungkapan kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”

(Arrahmah.com) – Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”. Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.

Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).

Ucapan Masya Allah

Masya Allah artinya “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaan-Nya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ucapan Subhanallah

Saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan Subhanallah sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.” (HR. Tirmizi)

“Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim. Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.” (QS. 40-41).

Jadi, kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Subahanahu wa Ta’ala Maha Suci dari semua keburukan tersebut.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat yang indah, indah karena keindahan atas kuasa dan kehendak Allah Ta’ala. Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan Subhanallah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebaliknya? Insyaa Allah tidak. Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah. Wallahu a’lam bish-shawabi.