KEAJAIBAN

oleh Salim A. Fillah

Iman itu terkadang menggelisahkan.
Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban.

Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Allah takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam!! Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

💌 Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Allah tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Allah kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba.
Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu?

Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil & ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)

Iklan

KEAJAIBAN

oleh Salim A. Fillah

Iman itu terkadang menggelisahkan.
Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban.

Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Allah takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam!! Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

💌 Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Allah tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Allah kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba.
Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu?

Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil & ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)

IKAN SALMON DAN IKAN HIU

Pada menu ikan masakan Jepang, ikan salmon akan lebih enak untuk
dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan
hidup saat hendak diolah untuk disajikan.
Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan
salmon yg sudah diawetkan dgn es..
Itu sebabnya para nelayan Jepang selalu
memasukkan salmon tangkapannya ke suatu
kolam buatan agar dlm perjalanan menuju
daratan salmon² tsb tetap hidup.
Meski demikian pada kenyataannya banyak
salmon yg mati di dalam kolam buatan tsb..
Bagaimana cara mereka (nelayan Jepang)
menyiasatinya..??
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu
kecil di dalam kolam tsb.. Sungguh Ajaib..!
Hiu kecil tsb “memaksa” salmon² itu terus
bergerak agar jangan sampai dimangsa si hiu
kecil tsb..
Akibatnya banyak ikan salmon yg tetap hidup
& jumlah salmon yg mati justru menjadi
sangat sedikit..!
Diam membuat kita Mati…!
Bergerak membuat kita Hidup…!
Apa yg membuat kita Diam??
Saat tidak ada masalah dlm hidup dan saat
kita berada dlm zona nyaman..
Situasi seperti ini kerap membuat kita
terlena..
Begitu terlenanya sehingga kita tdk sadar
bahwa kita telah mati..!
Ironis, bukan..??
Apa yg membuat kita bergerak..??
Masalah..
Tekanan Hidup..
dan
Tekanan Kerja..
Saat masalah datang, secara otomatis naluri
kita membuat kita bergerak aktif dan
berusaha mengatasi semua pergumulan hidup
itu..
Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan
potensi diri kitapun menjadi berkembang luar
biasa..
Ingatlah, bahwa kita akan bisa belajar banyak
dlm hidup ini bukan pada saat keadaan
nyaman, tapi justru pada saat kita
menghadapi badai hidup..
Itu sebabnya syukurilah kehadiran “hiu kecil”
yg terus memaksa kita utk bergerak dan tetap
survive..Never give up
Semangathh…. Alloh bersama langkah kita, insya-Alloh… Aamiin.
(Jalan Hidayah)

Kisah Sembunyikan Berita

ODOJ ★ ODOA ★ KUTUB

Salah seorang raja akan menjatuhkan hukuman mati  terhadap seorang tukang kayu yang tidak jelas kesalahannya apa.

Berita tentang keputusan itu bocor kepada si tukang kayu sebelum pengumuman resmi keluar.

Akibatnya ia tidak bisa memejamkan mata untuk tidur di malam itu.

Istrinya menasehati: “Tidurlah  di malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Tuhan itu hanya satu, sementara pintu keluar dari suatu masalah sangat banyak”.

Kalimat yang menentramkan itu tepat masuk ke dalam hatinya❤, hingga ia bisa menenangkan diri, dan ia pun bisa tidur di malam  itu.

Dia baru terbangun di pagi hari ketika pintu rumahnya diketuk oleh beberapa orang prajurit.

Wajahnya langsung menjadi pucat 😥P. Dia melihat kepada istrinya dengan pandangan putus asa menyesal, dan sedih karena telah mempercayai kata-kata nya semalam.

Dia membuka pintu dengan kedua tangan menggigil. Dia ulurkan tangannya ke arah pengawal supaya diikat.

Para pengawal yang datang itu berkata kepadanya penuh keheranan : “Raja sudah wafat, kami meminta kamu untuk membuatkan sebuah peti mati untuk baginda”.
Waktu itu juga wajahnya berubah menjadi ceria .

Kemudian ia melemparkan pandangan tanda mohon maaf ke arah istrinya.

Istrinya tersenyumsambil berkata:
“Tidurlah di malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Tuhan itu satu, sementara pintu keluar dari suatu masalah sangat banyak”.

Karena itu kadangkala seorang hamba sampai letih  karena berfikir sementara Allah yang memiliki semua rencana 📈 dan aturan .

Siapa yang merasa hebat karena jabatan, hendaklah ia mengingat FIR’AUN.

Siapa yang merasa hebat karena harta, hendaklah ia mengingat QARUN.

Siapa yang merasa hebat karena keturunan hendaklah ia mengingat ABU LAHAB.

Kehebatan, kekuasaan, dan kemuliaan hanya milik Allah satu-satunya.

Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia cabut dari siapa yang Dia kehendaki juga.

Jangan hukum masa depanmu dengan kondisi hari ini, Allah Maha Kuasa merubahnya dalam waktu sekejap.

Tugas kita hanya berusaha dan terus berdo’a .

TAHAJUD MENJELANG PERANG

Hujan deras yang mengguyur Badar di malam jum’at, 17 Ramadhan, membuat pasukan muslim tertidur.
Tak ada satu pun di antara mereka yang terjaga . Namun, dikejauhan, tampak sesosok tubuh berdiri tepat di bawah sebatang pohon. Tubuhnya sesekali dibungkukkan. Di lain kesempatan, kepalanya menyentuh tanah untuk bersujud. Setelah itu, tangannya ditengadahkan ke atas, memanjatkan do’a.
Serbannya sesekali berkibar diterpa angin gurun pasir yang datang.

Sosok itu adalah Rasulullah SAW. Rasa lelah dan kantuk yang datang menyerang tak membuatnya tertidur. Beliau, dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, melakukan shalat tahajjud.
Rasulullah SAW sangat khusyuk di tengah dinginnya malam. Mulutnya bergerak-gerak teratur saat memohon do’a kepada Allah. Air mata menetes dari matanya.
Sang pemimpin yang agung itu tak kuasa menahan tangis, membayangkan perang besar yang akan dilakukan esok hari (al-Fushul fi Sirah ar-Rasul dan Zad al-Ma’ad)

Itu adalah malam yang menentukan dan hanya satu malam. Karena keesokkan harinya, akan terjadi pertempuran pertama dalam sejarah Islam, perang perdana antara kekufuran dan iman, dan pertempuran pertama saat Allah SWT menegakkan panji agama dan kalimat La ilaha illa Allah. Dan Rasulullah SAW melewatkan malam itu dengan melakukan shalat tahajjud hingga pagi menjelang.

Sumber : The Great Story of Muhammad – Maghfirah Pustaka
____________________________
Fb: Komunitas Tahajjud Berantai

JANGAN MUDAH TERPENGARUH ORANG LAIN

Suatu hari, dua orang sahabat menghampiri sebuah lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk. Mukanya pun cemberut.
Orang pertama jelas jengkel menerima layanan seperti itu. Yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada penjual itu.
Lantas orang pertama itu bertanya kepada sahabatnya
Sahabat 1:
“Hei. Kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menyebalkan itu?”

Sahabat 2:
“Lho, kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain”

Sahabat 1:
“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah orang pertama.
Ia masih merasa jengkel.

Sahabat 2:
“Ya, itu masalah dia. Dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lainnya, toh itu enggak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri.”

Sahabat, Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.

Coba renungkan !!!
Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain?
Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu?
Jaga suasana hati !!!
Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak!
Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.
“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat………….
# semangat menebar kebaikan kawan…#
Copas dr grup sebelah smoga bermanfaat 👍

Kisah Rasulullah SAW dan Gadis Kecil

☆☆☆☆☆✏📌✏📌✏📌✏📌✏📌☆☆☆☆☆

Kisah ini terjadi di Madinah.
Hari Raya Idul Fitri Rasulullah seperti biasa mengunjungi rumah-rumah kaum muslimin dan mendoakannya.
Terlihat anak-anak bermain dengan bahagia. Namun, terlihat di pojok jalan seorang gadis kecil dengan pakaian lusuh tengah menangis..

Rasulullah saw. meletakkan tangannya yang penuh kasih sayang.

Anakku.. mengapa kau menangis? Bukankah hari ini hari raya?

Anak tersebut tetap menutup wajahnya  dan menjawab
Aku teringat Ayahku. Dihari raya terakhirnya, ia membelikanku gaun berwarna hijau dan sepatu baru namun setelah perang bersama Rasulullah saw. ayahku meninggal

Dengan penuh kasih sayang,  Rasulullah saw. Menawarkan gadis yatim itu untuk menjadi anak dan adik dari Fatimah.

Anak tersebut sangat gembira. Ia disisir, didandani dan dipakaikan gaun yang indah.Diberinya makanan dan uang saku hari Raya.

Kemudian diantar oleh Rasulullah untuk bermain

Adakah sekarang kita peduli terhadap saudara kita yang bertebaran dibawah desingan peluru..

Sanggupkah kita menjawab pertanyaan Allah atas nikmat yang kia rasakan?

Rasulullah saw. Bersabda :
Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian indah dan mendandaninya di hari raya, Allah swt. akan mendandaninya di hari kiamat.
♥Allah swt. mencintai terutama rumah yang terdapat anak yatim didalamnya
♥Barang siapa memelihara dan melindungi anak yatim, maka ia akan bersamaku di Surga

Sumber : Bernard Abdul Jabbar
http://m.suara-islam.com/mobile/detail/8288

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
____________________________
Fb: Komunitas Tahajjud Berantai
Pages: Motivasi Tahajjud
Twitter: @tahajudberantai
Email: kutub.indonesia@gmail.com
Blog : kutubindonesia.blogspot.com
Instagram : @komunitastahajjud

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆