Lelaki adalah Pemimpin bagi Wanita

ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝُ ﻗَﻮَّﺍﻣُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ
ﺑِﻤَﺎ ﻓَﻀَّﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑَﻌْﻀَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ
ﺑَﻌْﺾٍ ﻭَﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻬِﻢْ
ﻓَﺎﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕُ ﻗَﺎﻧِﺘَﺎﺕٌ ﺣَﺎﻓِﻈَﺎﺕٌ
ﻟِﻠْﻐَﻴْﺐِ ﺑِﻤَﺎ ﺣَﻔِﻆَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﻟﻼﺗِﻲ
ﺗَﺨَﺎﻓُﻮﻥَ ﻧُﺸُﻮﺯَﻫُﻦَّ ﻓَﻌِﻈُﻮﻫُﻦَّ
ﻭَﺍﻫْﺠُﺮُﻭﻫُﻦَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﻀَﺎﺟِﻊِ
ﻭَﺍﺿْﺮِﺑُﻮﻫُﻦَّ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﻃَﻌْﻨَﻜُﻢْ ﻓَﻼ
ﺗَﺒْﻐُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﺳَﺒِﻴﻼ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠِﻴًّﺎ ﻛَﺒِﻴﺮًﺍ ‏( ٣٤‏)

Artinya:
Kaum laki-laki adalah pemimpin [1] bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) [2] , dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri [3] ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka) [4] . Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz [5] , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka[6] , tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang) [7] , dan (kalau perlu) pukullah mereka[8] . Tetapi, jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan
untuk menyusahkannya [9] . Sesungguhnya Allah Mahatinggi[10] lagi Mahabesar[12] .(An-Nisa’ :34)

Keterangan:

[1] Yakni berkuasa. Mereka berhak
mengatur wanita, menekan mereka
untuk memenuhi hak Allah, seperti
menjaga yang fardhu dan
menghindarkan bahaya dari mereka.
Kaum laki-laki juga pemimpin kaum
perempuan dalam arti yang
memberi nafkah, pakaian dan
tempat tinggal.

[2] Kelebihan laki-laki di atas
perempuan dapat dilihat dari
beberapa sisi, di antaranya karena
kewalian khusus dimiliki laki-laki,
kenabian dan kerasulan juga khusus
bagi laki-laki, dikhususkan bagi
mereka beberapa ibadah seperti
jihad, shalat Jum’at dsb. Demikian
juga dilebihkannya laki-laki dalam
hal akal, kesabaran dan kekuatan
yang tidak dimiliki kaum
perempuan.

[3] Maksudnya taat kepada
suaminya meskipun suaminya
sedang tidak ada, ia memelihara
rahasia dan harta suaminya.

[4] Maksudnya Allah telah
mewajibkan kepada suami untuk
mempergauli istrinya dengan baik.

[5] Yakni nampak tanda-tanda
nusyuz. Nusyuz adalah
meninggalkan kewajiban bersuami
isteri. nusyuz dari pihak isteri
seperti meninggalkan rumah tanpa
izin suaminya.

[6] Terangkanlah kepada mereka
hukum menaati suami, mendorong
mereka untuk taat, takutkanlah
mereka dengan siksaan Allah jika
durhaka kepada suaminya.

[7] Yakni jika mereka telah
menampakkan nusyuz. Dengan
tidak tidur bersamanya dan tidak
menggaulinya sekedar agar tujuan
dapat tercapai.

[8] Dengan pukulan yang tidak
keras, jika pisah ranjang tidak
membut mereka berhenti dari
nusyuz.

[9] Maksudnya untuk memberi
pelajaran kepada istri yang
dikhawatirkan pembangkangannya
harus dimulai dengan memberi
nasihat. Jika nasihat tidak
bermanfaat, barulah dipisahkan dari
tempat tidur mereka, jika tidak
bermanfaat juga barulah dibolehkan
memukul mereka dengan pukulan
yang tidak meninggalkan bekas atau
pukulan yang keras. Jika cara
pertama ada manfaatnya, janganlah
digunakan cara yang lain dan
seterusnya. Ada pula yang
menafsirkan ” Tetapi, jika mereka
menaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari alasan untuk
menyusahkannya” yakni janganlah
membahas masalah yang telah lalu,
mencari-cari aib yang jika dibahas
malah menimbulkan madharat dan
keburukan.

[10] Yakni memiliki ketinggian
secara mutlak dengan segala sisi dan
I’tibarat (segi); Dia Tinggi dzat-Nya,
Dia tinggi kedudukan-Nya dan
Tinggi pula kekuasaan-Nya.

[11] Maha besar adalah Yang tidak
ada yang lebih besar dan lebih
agung daripada-Nya, yang besar dzat
dan sifat-Nya. Oleh karena itu,
takutlah terhadap siksaan-Nya jika
kamu menzalimi mereka.

Allahu A’lam

Iklan

NOMOR WHATSAPP (WA) PARA ULAMA DUNIA

Ini zaman canggih wahai saudaraku.
Anda tidak perlu susah-susah lagi jikalau ingin bertanya kepada para ulama, sebab sekarang mereka sudah punya WhatsApp. Anda tingga; bertanya, dan Anda tidak lama setelahnya akan mendapatkannya jawabannya.
Inilah nomor WhatsApp beberapa ulama besar:

Syeikh Khalid al-Musyaiqih: 0505148076
Syeikh Muhammad al-Habdan: 0505999336
Syeikh Umar al-Id: 0505457377
Syeikh Ibrahim Bu Biyisth: 0504921723
Syeikh Ibrahim al-Khudhairy: 0505441178
Syeikh Musaid adDakhil: 0505499613
Syeikh Muhammad al-Uraify: 0503009941/0566866567
Syeikh Thariq al-Hawwas: 0505918631
Syeikh Shalih al-Manshur: 050133163
Syeikh Abdurrahman al-Makhdub: 0555100281

Syeikh al-Badr al-Masyary: 0505409983
Syeikh Saad al-Ghamidy: 0504832105
Syeikh Aidh al-Qarny: 0504222000
Syeikh Abdullah al-Qar’awy: 0505150497
Syeikh Abdurrahman al-Barrak: 0505227228
Syeikh Sulaiman al-Jubailan: 0505144148
Syeikh Abdul Aziz asy-Syawy: 0505130234
Syeikh Ibrahim ad-Duwaisy: 0505136512
Syeikh Ibrahim az-Zayyat: 0555852638
Syeikh Abdullah al-Ju’aytsan: 0505154240

Syeikh Shalih al-Mughamisy: 0505319008
Syeikh Khalil Abu Ibrahim: 0565354546
Syeikh Salman al-Audah: 0504250250
Syeikh Salman al-Asmary: 0566919010
Syeikh Raid al-Anzy: 0541888075
Syeikh Umar al-Wahhaby: 0551266991

Maa syaa Allah, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Jangan abaikan. Bagikan kepada yang lainnya, agar mereka juga mengetahuinya.

Share dari Ust Denis Arifandi Pakih Sati (DA PAKIH SATI)
Salam dari Jogjakarta

*gunakan bahasa arab yah

Al-Qur’an Itu Amanah

Amanah yang diberi sebagai petunjuk kita menapaki jalan berliku di dunia, berupa
Pendengaranmu…
Penglihatanmu…
Dan hati nuranimu..

Dengan mendengar kita mendapatkan ilmu..
Dengan melihat ilmu menjadi nyata..
Dengan hati, semua akan terekam..
Menjadi “sakitnya tuch disini”
Atau…
“Bahagianya tuch disini”

Kenapa bisa SAKIT…?
Karena kenyataan tak sesuai dengan harapan atau bahkan angan

Kenapa bisa BAHAGIA…?
Karena keyakinan yang begitu besar ada Allah yang MAHA mengatur segalanya
Ada Allah yang
“Maha Pengasih Maha Penyayang”
Ada Allah yang tidak membiarkan kita dilepas ke dunia begitu saja…
Tapi ada ” PANDUAN”
Untuk dipahami dan dipelajari, sebuah pedoman hidup..

Apa…?
Benar apakah itu…?
Ialah Al Quran.

Bukan hanya untuk di vokal kan.
Bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban.

Tapi benar-benar petunjuk untuk kita menjalani hidup.

Tidak percaya…
Coba kita baca semua.. masalah apa yang tidak dijelaskan di sana?
Ataukah belum pernah SEKALIPUN tuntaskan membaca makna quran?

Bukankah eksistensi diri belajar adalah ujiannya untuk kenaikan tingkat belajar.

Maka fasilitas ujian hidup akan dapat dikerjakan
Saat kita gemar belajar dan beramal.
Belajar dan beramal apa…?

“AL-QURAN” ya.. itu AL-QURAN

Bagaimana akan tahu bagaimana jalani hidup, jika buku panduanya hanya di vokalkan.

Bukankah Allah tidak akan mengubah sebuah kaum
Jika ia belum berusaha mengubahnya

Wahyu pertama adalah kata
“IQRO” Bacalah.
Tapi saat itu Nabi Muhammad tidak dapat membaca

Pesan apa disana?
Jangan hanya baca yang tersurat, tetapi juga baca dan pelajari yang tersirat

Allahuakbar…!!!

Semangat menjadi Artis terbaiknya Allah.
Duhai sahabat ODOJ

Allah sutradaranya
Rasulullah Astradanya
Al’quran Naskahnya
Dunia panggung Actionya
Manusia Artisnya
Piala Citranya Syurga

Full Semangat…!!!

Shiwy M Div.Training Motivasi ODOJ

Hanya 2 ribu ya?

Inikah yang mereka bilang “hanya 2ribu?”
Ini adalah sepenggal kisah yang diceritakan oleh Ibu Ernydar Irfan, yang
saya baca dari sharing di wall bang Harry Sufehmi . Saya mengedit tanda
baca, tanpa mengubah isinya. Semoga menginspirasi.
Miskin Tidak Harus Mengemis
Hari ini sesosok wanita tua mengetuk pintu kaca toko,
“Bu… beli kue saya… belum laku satupun… kalau saya sudah ada yang
laku, saya enggak berani ketuk kaca toko ibu… ”
Saya persilakan dia masuk dan duduk. Segelas air dan beberapa butir
kurma saya sajikan untuknya.
“Ibu bawa kue apa?” tanya saya
“Gemblong, getuk, bintul, gembleng bu” jawabnya
Saya tersenyum dan berkata,
“Saya nanti beli kue ibu… tapi ibu duduk dulu, minum dulu, istirahat dulu,
muka ibu sudah pucat”
Dia mengangguk dan melanjutkan bicara,
“Kepala saya sakit bu.. pusing, tapi harus cari uang. Anak saya sakit,
suami saya sakit, di rumah hari ini beras udah gak ada sama sekali.
Makanya saya paksain jualan”, katanya sambil memegang keningnya.
Air matanya mulai jatuh. Saya cuma bisa memberinya sehelai tisu dan dia
melanjutkan bicara,
“Sekarang makan makin susah, bu. Kemarin saja beras gak kebeli.
Apalagi sekarang. Katanya bensin naik. Apa-apa serba naik. Saya udah 3
bulan cuma bisa bikin bubur. Kalau masak nasi gak cukup. Hari ini jualan
gak laku, nawarin orang katanya gak jajan dulu. Apa-apa pada mahal.
Katanya uang belanjanya pada enggak cukup.”
“Anak ibu sakit apa?” saya bertanya.
“Nggak tau ibu, batuknya berdarah”, saya terpana.
“Ibu.. ibu harus bawa anak ibu ke puskesmas, kan ada BPJS?”
Dia cuma tertunduk, lalu melanjutkan bicara,
“Saya bawa anak saya pakai apa bu? gendong gak kuat, jalannya jauh,
naik ojek gak punya uang”
“Ini ibu kue bikin sendiri?” tanya saya
“Enggak bu, ini saya ngambil ke orang”, jawabnya.
“Terus ibu penghasilannya dari sini aja?” dia mengangguk lemah.
“Berapa ibu dapet setiap hari?”
“Nggak pasti bu, ini kue untungnya 100-300 perak, bisa dapet 4ribu -12
ribu paling banyak.” jawabnya
Kali ini air mata saya yang mulai mengalir.
“Ibu pulang jam berapa jualan?”
“Jam 2. Saya gak bisa lama lama bu, soalnya uangnya buat beli beras.
Suami sama anak saya belum makan. Saya gak mau minta minta, saya
gak mau nyusahin orang.”
“Ibu, kue-kue ini tolong ibu bagi-bagi di jalan. Ini beli beras buat 1 bulan,
ini buat 10x bulak balik naik ojek bawa anak ibu berobat. Ini buat modal
ibu jualan sendiri. ibu sekarang pulang saja. Bawa kurma ini buat
pengganjal lapar.”
Ibu itu menangis. Dia pindah dari kursi ke lantai, dia bersujud. Tak
sepatah katapun keluar, lalu dia kembalikan uang saya.
“Kalau ibu mau beli. Belilah kue saya. Tapi selebihnya enggak bu. Saya
malu.”
Saya pegang erat tangannya.
“Ibu… ini bukan buat ibu. Tapi buat ibu saya. Saya melakukan bakti ini
untuk ibu saya, agar dia merasa tidak sia sia membesarkan dan mendidik
saya. Tolong di terima.”
Saya bawa keranjang jualannya. Saat itu saya memegang lengannya dan
saya menyadari dia demam tinggi.
“Ibu pulang ya…”
Dia cuma bercucuran airmata lalu memeluk saya dan berkata
“Bu.. Saya gak mau kesini lagi. Saya malu. Ibu gak doyan kue jualan
saya. Ibu cuma kasihan sama saya… saya malu….”
Saya cuma bisa tersenyum dan berkata
“Ibu… Saya doyan kue jualan ibu, tapi saya sedang kenyang… Sementara
di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan.
Sekarang ibu pulang yaa…”
Saya bimbing dia menyeberang jalan, lalu saya naikkan angkot… Dia
terus berurai air mata…
Lalu saya masuk lagi ke toko, mebuka buka FB saya dan membaca
status orang orang berduit yang menjijikan. ….the show must go on…

Ucapan Masya Allah yang sering tertukar dengan Subhanallah

Ungkapan kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”

(Arrahmah.com) – Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”. Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.

Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).

Ucapan Masya Allah

Masya Allah artinya “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaan-Nya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ucapan Subhanallah

Saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan Subhanallah sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.” (HR. Tirmizi)

“Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim. Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.” (QS. 40-41).

Jadi, kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Subahanahu wa Ta’ala Maha Suci dari semua keburukan tersebut.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat yang indah, indah karena keindahan atas kuasa dan kehendak Allah Ta’ala. Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan Subhanallah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebaliknya? Insyaa Allah tidak. Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,

“Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?” tanya sang ayah dalam igauannya.

Sang anak menjawab, “Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya.” Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

“Oh…lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?” tanya ayahnya kembali.

“Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga.”

“Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang,” ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.

“Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?” tanya sang ayah.

“Ini kami, Yah. Anakmu.” jawab anak-anak.

“Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu.”

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

“Pulanglah kapan engkau tidak sibuk.”

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.

Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, “Saya sibuk…saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini.” Lalu berharap sang ayah berkata, “Baiklah, ayah mengerti.”

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul ‘Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, “Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?”

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga.

Smoga mnjadi bahan renungan bagi kita semua.
Semoga bermanfaat dan Salam Ukhuwah

Hilman Rosyad Syihab

JANGAN MARAH BAGIMU JANNAH

Alkisah terdapat pasutri yang telah tua renta, usia mereka sangat lanjut dan usia pernikahan mereka telah mencapai angka 60tahun.

Dalam perjalanan pernikahannya, kedua pasutri ini tidak sekalipun terlibat konflik yang tidak selesai, mereka hidup dalam keterbukaan satu sama lain, bahagia dan saling menghargai. Akan tetapi, diantara mereka ada satu rahasia besar yang mereka sepakati untuk tidak diumbar, yakni mengenai Kotak Rahasia.

Kotak Rahasia ini miliki si istri. Istri meminta kepada suami untuk tidak sekalipun membuka isi kotak tersebut kecuali waktunya telah tiba. Dan si suami menghormatinya.

Hingga suatu ketika, istri jatuh sakit. Ia harus dirawat di rumah sakit. Karena merasa waktunya telah dekat, ia pun berkata kepada suaminya.”Wahai suamiku, bawalah Kotak Rahasia itu kemari. Taruhlah ia disisiku dan aku akan beritahukan isinya kepadamu”, pintanya.

Bergegas suami mengambilnya ke rumah dan kemudian selang beberapa saat, Kotak Rahasia telah ada di hadapan mereka berdua, di sebuah kamar rawat inap rumah sakit.

“Sekarang bukalah”, kata istri. Dengan penuh rasa penasaran suami membukanya dan terkejutlah ia ketika melihat isi kotak itu.

Ternyata isinya hanya boneka rajut yang berjumlah 2 buah dan segepok uang yang dililit menggunakan karet gelang. “Banyak sekali uang ini, berapa jumlahnya?”, tanya suami keheranan. “Kurang lebih 950jt”, jawab istri. Dan suami pun semakin kaget.”Bagaimana bisa?, maukah kau menjelaskan apa maksud boneka dan uang ini wahai istri ku?”, suami berusaha meminta istri menjelaskan.

Dengan terbata bata, sembari menahan sakit, istri pun menjelaskan.
“Ketahuilah suamiku, pertama aku ingin berterimakasih atas pernikahan yang telah kita jalani. Yang kedua, nenekku berpesan kepadaku agar sebisa mungkin hindari marah kepada pasangan dalam kehidupan berumahtangga. Kalau kau tak bisa, maka ketika engkau marah, rajutlah sebuah boneka”, terang istri.

Suami menghela napas dan merasa bahagia karena selama 60thn, ia hanya 2 kali membuat istrinya marah. Hal ini ditandai dengan adanya 2 boneka rajut.

“Baiklah”, timpal sang suami. “Kemudian apa maksud uang ini?”, tanyanya. Sang istri pun menjawab pelan, “Wahai suamiku, uang itu dapat engkau pergunakan untuk membiayai sakitku ini. Perlu engkau ketahui bahwa uang itu adalah hasil penjualan boneka rajut yang selama ini telah aku buat demi menahan amarahku kepadamu”.

JREEENGG!!!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Laa tagdhob wa lakal jannah, ungkap Rasulullah Muhammad Shollallahu wa alaihi wa salam dalam riwayat At Thabrani.

Jangan marah maka bagimu surga. Orang yang kuat tidak dapat ditandai dari fisiknya yang kekar. Akan tetapi ia disimbolkan dengan kemampuannya mengendalikan amarah.

Setiap manusia berpotensi untuk marah dan sangat didukung oleh situasi tertentu agar bersikap marah.

Maka cobalah satu detik sebelum marah pikirkan hadits diatas, jika ingin surga maka tinggalkan marah dan jika tidak ingin surga maka silahkan marah.

Semoga bermanfaat 🙂

END

TIPS MENYEMBELIH HEWAN QURBAN

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ .                                           [رواه مسلم]

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu . Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.

(Riwayat Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits  :

1.     Syariat Islam menuntut perbuatan ihsan kepada setiap makhluk termasuk diantaranya adalah hewan.

2.     Tidak boleh menyiksa dan merusak tubuh sebagai sasaran dan tujuan, tidak juga boleh menyayat-nyayat orang yang dihukum qishash.

3.     Termasuk ihsan juga berbuat baik terhadap hewan ternak dan belas kasih terhadapnya. Tidak boleh membebaninya diluar kemampuannya serta tidak menyiksanya saat menyembelihnya.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H.