Uncategorized

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,

“Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?” tanya sang ayah dalam igauannya.

Sang anak menjawab, “Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya.” Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

“Oh…lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?” tanya ayahnya kembali.

“Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga.”

“Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang,” ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.

“Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?” tanya sang ayah.

“Ini kami, Yah. Anakmu.” jawab anak-anak.

“Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu.”

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

“Pulanglah kapan engkau tidak sibuk.”

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.

Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, “Saya sibuk…saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini.” Lalu berharap sang ayah berkata, “Baiklah, ayah mengerti.”

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul ‘Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, “Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?”

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga.

Smoga mnjadi bahan renungan bagi kita semua.
Semoga bermanfaat dan Salam Ukhuwah

Hilman Rosyad Syihab

Iklan
Uncategorized

JANGAN MARAH BAGIMU JANNAH

Alkisah terdapat pasutri yang telah tua renta, usia mereka sangat lanjut dan usia pernikahan mereka telah mencapai angka 60tahun.

Dalam perjalanan pernikahannya, kedua pasutri ini tidak sekalipun terlibat konflik yang tidak selesai, mereka hidup dalam keterbukaan satu sama lain, bahagia dan saling menghargai. Akan tetapi, diantara mereka ada satu rahasia besar yang mereka sepakati untuk tidak diumbar, yakni mengenai Kotak Rahasia.

Kotak Rahasia ini miliki si istri. Istri meminta kepada suami untuk tidak sekalipun membuka isi kotak tersebut kecuali waktunya telah tiba. Dan si suami menghormatinya.

Hingga suatu ketika, istri jatuh sakit. Ia harus dirawat di rumah sakit. Karena merasa waktunya telah dekat, ia pun berkata kepada suaminya.”Wahai suamiku, bawalah Kotak Rahasia itu kemari. Taruhlah ia disisiku dan aku akan beritahukan isinya kepadamu”, pintanya.

Bergegas suami mengambilnya ke rumah dan kemudian selang beberapa saat, Kotak Rahasia telah ada di hadapan mereka berdua, di sebuah kamar rawat inap rumah sakit.

“Sekarang bukalah”, kata istri. Dengan penuh rasa penasaran suami membukanya dan terkejutlah ia ketika melihat isi kotak itu.

Ternyata isinya hanya boneka rajut yang berjumlah 2 buah dan segepok uang yang dililit menggunakan karet gelang. “Banyak sekali uang ini, berapa jumlahnya?”, tanya suami keheranan. “Kurang lebih 950jt”, jawab istri. Dan suami pun semakin kaget.”Bagaimana bisa?, maukah kau menjelaskan apa maksud boneka dan uang ini wahai istri ku?”, suami berusaha meminta istri menjelaskan.

Dengan terbata bata, sembari menahan sakit, istri pun menjelaskan.
“Ketahuilah suamiku, pertama aku ingin berterimakasih atas pernikahan yang telah kita jalani. Yang kedua, nenekku berpesan kepadaku agar sebisa mungkin hindari marah kepada pasangan dalam kehidupan berumahtangga. Kalau kau tak bisa, maka ketika engkau marah, rajutlah sebuah boneka”, terang istri.

Suami menghela napas dan merasa bahagia karena selama 60thn, ia hanya 2 kali membuat istrinya marah. Hal ini ditandai dengan adanya 2 boneka rajut.

“Baiklah”, timpal sang suami. “Kemudian apa maksud uang ini?”, tanyanya. Sang istri pun menjawab pelan, “Wahai suamiku, uang itu dapat engkau pergunakan untuk membiayai sakitku ini. Perlu engkau ketahui bahwa uang itu adalah hasil penjualan boneka rajut yang selama ini telah aku buat demi menahan amarahku kepadamu”.

JREEENGG!!!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Laa tagdhob wa lakal jannah, ungkap Rasulullah Muhammad Shollallahu wa alaihi wa salam dalam riwayat At Thabrani.

Jangan marah maka bagimu surga. Orang yang kuat tidak dapat ditandai dari fisiknya yang kekar. Akan tetapi ia disimbolkan dengan kemampuannya mengendalikan amarah.

Setiap manusia berpotensi untuk marah dan sangat didukung oleh situasi tertentu agar bersikap marah.

Maka cobalah satu detik sebelum marah pikirkan hadits diatas, jika ingin surga maka tinggalkan marah dan jika tidak ingin surga maka silahkan marah.

Semoga bermanfaat 🙂

END

Uncategorized

TIPS MENYEMBELIH HEWAN QURBAN

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ .                                           [رواه مسلم]

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu . Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.

(Riwayat Muslim)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits  :

1.     Syariat Islam menuntut perbuatan ihsan kepada setiap makhluk termasuk diantaranya adalah hewan.

2.     Tidak boleh menyiksa dan merusak tubuh sebagai sasaran dan tujuan, tidak juga boleh menyayat-nyayat orang yang dihukum qishash.

3.     Termasuk ihsan juga berbuat baik terhadap hewan ternak dan belas kasih terhadapnya. Tidak boleh membebaninya diluar kemampuannya serta tidak menyiksanya saat menyembelihnya.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H.

Uncategorized

Tuntunan Ketika Hendak Keluar Melaksanakan Shalat ‘Ied

Pertama: Dianjurkan untuk mandi
sebelum berangkat shalat. Ibnul
Qayyim mengatakan, “Terdapat
riwayat yang shahih yang
menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang
dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
mandi pada hari ‘ied sebelum
berangkat shalat.”

Kedua : Berhias diri dan memakai
pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim
mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam biasa keluar ketika shalat
‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan
pakaiannya yang terbaik.”

Ketiga: Makan sebelum keluar menuju
shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul
Fithri.

Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari
ayahnya, ia berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻻَ ﻳَﻐْﺪُﻭ ﻳَﻮْﻡَ
ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺄْﻛُﻞَ ﻭَﻻَ ﻳَﺄْﻛُﻞُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻷَﺿْﺤَﻰ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺟِﻊَ
ﻓَﻴَﺄْﻛُﻞَ ﻣِﻦْ ﺃُﺿْﺤِﻴَّﺘِﻪِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam biasa berangkat shalat ‘ied
pada hari Idul Fithri dan beliau makan
terlebih dahulu. Sedangkan pada hari
Idul Adha, beliau tidak makan lebih
dulu kecuali setelah pulang dari shalat
‘ied baru beliau menyantap hasil
qurbannya.”

Hikmah dianjurkan makan sebelum
berangkat shalat Idul Fithri adalah
agar tidak disangka bahwa hari
tersebut masih hari berpuasa.
Sedangkan untuk shalat Idul Adha
dianjurkan untuk tidak makan terlebih
dahulu adalah agar daging qurban bisa
segera disembelih dan dinikmati
setelah shalat ‘ied.

Keempat : Bertakbir ketika keluar
hendak shalat ‘ied. Dalam suatu
riwayat disebutkan,

ﻛَﺎﻥَ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻔِﻄْﺮِ ﻓَﻴُﻜَﺒِّﺮ
ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺄْﺗِﻲَ ﺍﻟﻤُﺼَﻠَّﻰ ﻭَﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘْﻀِﻲَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ
ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ؛ ﻗَﻄَﻊَ ﺍﻟﺘَّﻜْﺒِﻴْﺮ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
biasa keluar hendak shalat pada hari
raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir
sampai di lapangan dan sampai shalat
hendak dilaksanakan. Ketika shalat
hendak dilaksanakan, beliau berhenti
dari bertakbir.”

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah berangkat shalat ‘ied
(Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al
Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas,
‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain,
Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan
Ayman bin Ummi Ayman, mereka
mengangkat suara membaca tahlil (laa
ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).

Tata cara takbir ketika berangkat
shalat ‘ied ke lapangan:

[1] Disyari’atkan dilakukan oleh setiap
orang dengan menjahrkan
(mengeraskan) bacaan takbir. Ini
berdasarkan kesepakatan empat ulama
madzhab.

[2]Di antara lafazh
takbir adalah,

ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻟَﺎ ﺇﻟَﻪَ ﺇﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍَﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻛْﺒَﺮُ
ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ

“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha
illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa
lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah
Maha Besar, tidak ada sesembahan
yang berhak disembah dengan benar
selain Allah, Allah Maha Besar, Allah
Maha Besar, segala pujian hanya
untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini
dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada
riwayat yang menyatakan bahwa
lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Syaikhul Islam juga menerangkan
bahwa jika seseorang mengucapkan
“ Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu
akbar “, itu juga diperbolehkan.

Kelima: Menyuruh wanita dan anak
kecil untuk berangkat shalat ‘ied.
Dalilnya sebagaimana disebutkan
dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang
pernah kami sebutkan. Namun wanita
tetap harus memperhatikan adab-adab
ketika keluar rumah, yaitu tidak
berhias diri dan tidak memakai harum-
haruman.
Sedangkan dalil mengenai anak kecil,
Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih
kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau
pernah menghadiri shalat ‘ied bersama
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Ia
menjawab,

ﻧَﻌَﻢْ ، ﻭَﻟَﻮْﻻَ ﻣَﻜَﺎﻧِﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼِّﻐَﺮِ ﻣَﺎ ﺷَﻬِﺪْﺗُﻪُ

“ Iya, aku menghadirinya. Seandainya
bukan karena kedudukanku yang
termasuk sahabat-sahabat junior,
tentu aku tidak akan menghadirinya .

Keenam: Melewati jalan pergi dan
pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau
mengatakan,

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ
ﻋِﻴﺪٍ ﺧَﺎﻟَﻒَ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖَ

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan
yang berbeda ketika berangkat dan
pulang. “

Ketujuh: Dianjurkan berjalan kaki
sampai ke tempat shalat dan tidak
memakai kendaraan kecuali jika ada
hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau
mengatakan,

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ- ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟْﻌِﻴﺪِ ﻣَﺎﺷِﻴًﺎ ﻭَﻳَﺮْﺟِﻊُ ﻣَﺎﺷِﻴًﺎ .

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam biasa berangkat shalat ‘ied
dengan berjalan kaki, begitu pula
ketika pulang dengan berjalan
kaki.“

Allahu A’lam

Uncategorized

SEPUTAR PERNIKAHAN

✅TANYA JAWAB SEPUTAR NIKAH

Tanya:
Asslkm ustadz, saya mau tanya apakah boleh menikahi gadis yang masih sekolah SMA?

Jawab:
Wa’alaikummussalam.. Hukum menikahi gadis yg masih sekolah adalah Makruh dan mudhorot. Sebaiknya menikahinya setelah pulang sekolah.

✅TANYA JAWAB SEPUTAR NIKAH

Tanya:
Aslm ust. Apa hukum nikah dengan akhwat yang masih kuliah?

Jawab:
Wa’alaikummussalam.. Hukumnya makruh. Lebih baik selesaikan dahulu kuliahnya, atau pas jam istirahat agar tidak mengganggu mahasiswa lain dan dosen.
Sekian.

✅TANYA JAWAB SEPUTAR NIKAH

Tanya:
Asslkm ustadz, saya mau tanya apakah boleh menikahi akhwat sekampus?

Jawab:
Wa’alaikummussalam.. Hukum menikahi akhwat sekampus adalah haram. Maksimal menikahi 4 orang akhwat, kalau sekampus terlalu banyak
Sekian.

✅TANYA JAWAB SEPUTAR NIKAH

Tanya:
Asslkm ustadz, saya mau tanya apakah boleh menikahi ikhwan sholeh?

Jawab:
Wa’alaikummussalam.. Hukum menikahi ikhwan sholeh adalah haram. Ente itu ikhwan,haram menikahi sesama ikhwan
Sekian.

✅TANYA JAWAB SEPUTAR NIKAH

Tanya:
Asslkm ustadz, saya mau tanya apakah boleh menikahi akhwat berjilbab coklat di pojok sana?

Jawab:
Wa’alaikummussalam.. Hukum menikahi akhwat jilbab coklat di pojok sana adalah haram.
Itu istri saya.
Sekian.

Uncategorized

KEAJAIBAN SHOLAT DHUHA

Sholat dhuha itu menyimpan misteri yang tidak semua orang tahu. Saatnya kita mengungkap dan memanfaatkannya, Bukankah Allah swt, menyediakan kesempatan bagi umat-Nya. Allah membuka lebar-lebar bagi hamba-Nya demi meraih kesejahteraan hidup.


Oleh karena jarang orang yang mengetahui misteri di balik sholat dhuha, maka tak banyak di antara mereka yang rajin mengamalkannya. Bahkan tidak menganggap terlalu utama jika dibandingkan sholat sunat lainnya.


Seseorang pernah memberi testemoni (kesaksian), bahkan dirinya merasakan hal yang luar biasa dari sholat dhuha yang ia kerjakan.


Awal ia sebagai seorang mandor pada penerbitan. Karena krisis moneter, ia di rumahkan. Pesangonnya tak cukup banyak. Satu-satunya harta yang masih tersisa adalah rumah.


Harta kebutuhan pokok terus meroket. Pesangonnya habis untuk makan. Ia mencari pekerjaan kemana-mana namun gagal. Pikirannya semakin kalut, jalan hidupnya jadi buntu. Untunglah ia masih memiliki iman sehingga menyandarkan nasibnya kepada Allah.


Di saat seperti itu, menemukan lembaran khutbah jum’at. Secara iseng ia membacanya, materinya tentang keajaiban sholat dhuha dalam meraih rejeki. Hatinya tergugah. Lelaki tersebut segera mengambil wudhu dan menunaikan sholat dhuha. Ia menghadapkan jiwa raganya kepada Allah. Ia mengaduhkan nasibnya kepada sang pemilik arsy dan pemilik kekayaan di jagat raya ini.


Ketika mengangkat tangan bertakbiratul ikhram, hatinya bergetar. Saat itulah ia mulai melangkahkan jiwanya ke gerbang sang maharaja. Ketika ia rukuk, merasa dirinya barada di hadapanNya.


Ketika sujud, secara totalitas di serahkan nasib dan segala urusan di bawah kekuasaan tuhan. Dalam setiap detakan jantung, seakan-akan ia berbicara dalam tangis agar Allah berkenan menolongnya. Siapa lagi yang dapat menolong dan membebaskan dirinya dari kesulitan hidup kalau bukan Allah swt.


Disaat-saat seperti itu dirinya seakan-akan lebur sehingga sama sekali merasa hina di hadapan tuhannya. Tulang belulang dan urat nadinya terasa lemas tak berdaya, karena segala daya dan upaya hanyalah di tangan Allah.


Selesai menghadap tuhannya, ia menutup sholat dhuha dengan ucapan salam. Ia tak langsung beranjak dari sajadahnya. Ia menyempatkan diri untuk berdoa, doa yang dipanjatkannya adalah istighfar: yakni permohonan ampun kepada Allah karena ia takut jangan-jangan saat menghadap tadi ada perilaku yang kurang sopan.


Kedua ia meminta ampunan segala dosa di masa lalu. Baik yang di sengaja maupun tidak, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Doanya di lanjutkan dengan mengagungkan Allah sebagai tuhan satu-satunya yang di sembah dan di mintai pertolongan.


Selanjutnya ia mencurahkan semua yang membebani pikirannya. Ia memohon agar kiranya Allah berkenan memberi jalan keluar agar terbebas dari kesulitan hidup.


Setelah ia beranjak pergi kerumah dengan maksud mencari nafkah. Namun hari itu tidak punya tujuan pasti. Di tengah perjalanan ia teringat bahwa silaturrahmi dapat menambah rejeki. Langkahnya di ubah. Ia mendatangi beberapa temannya. Siapa tahu dari mereka mendapatkan informasi tentang pekerjaan.


Satu dua hari keadaannya tidak berubah. Ia tidak mendapatkan apa-apa dari para temannya. Namun keadaan itu tidak mengubah semangat dan keyakinannya bahwa Allah adalah pemilik rejeki yang berhak memberi kapada siapa saja.


Ia tidak surut langkah dan tidak berputus asa. Di lakukan sholat dhuha setiap pagi. Seperti biasanya ia lalu pergi keluar rumah dengan tujuan mengubah nasib dan menjeput rejeki.


Ikhtiar itu di lakukannya hampir setiap bulan lamanya. Suatu ketika, setelah sholat dhuha ia tak langsung pergi keluar rumah, melainkan membaringkan tubuhnya dan membiarkan pikirannya menerawang. Siapa tahu dapat gagasan baru.


Selagi menerawang dalam lamunan, telepon rumah tiba-tiba berdering. Tanpa di sangka sebelumnya, teman lama yang nyaris terlupakan menghubunginya.Temannya itu ingin menjual mesin cetaknya karena usahanya bangkrut. Ia tertawa karena keadaan dirinya sendiri dalam kondisi sulit; di PHK dari pekerjaan. Uang dari mana untuk membeli mesin tersebut.


Tapi selang sehari itu, seorang sahabat lainnya yang pernah duduk sebangku SMA dulu, datang kerumah. Temannya ini membawah angin baik. Orang ini mempunyai banyak uang karena baru saja mendapatkan warisan. Ia tak tahu harus di apakan uang ini.


Aku punya modal. Kau bisa memanfaatkannyadengan cara bagi hasil. Bagaimana?” kata tamunya.
Meskipun ia nganggur, tawaran dari temannya itu tak serta merta di terima begitu saja. Ia meminta waktu untuk berpikir satu dua hari.


Dalam waktu dua hari, akhirnya ia menemukan jalan keluar. Ia menerima tawaran temannya untuk membeli mesin cetak dan kertas.


Rupanya tuhan mulai membuka jalan keluar baginya. Hatinya tercerahkan sehingga ide-ide cemerlang mengalir begitu saja. Setiap hari ketika matahari sepenggala, ia berdiri ‘duduk’ bersama pemilik rejeki. Melalui sholatnya, ia seolah-olah bertanya, “Wahai Allah, usaha apakah yang bisa mendapatkan rejeki barokah?”.


Tuhan maha mendengar. Hatinya lalu di dorongNya untuk menghubungi teman-teman lamanya; para agen buku. Barang kali berkat keajaiban sholat dhuha, jalan yang di tempuh begitu mudah. Sepertinya, kunci rejeki telah berada di tangannya.


Bahkan tak disangka-sangka, ia bertemu seseorang dari perkenalannya, ternyata seseorang itu adalah penulis terkenal. Yang menggembirakan, menawarkan naskah untuk di terbitkan.
Ia mulai mencetak buku dan dijual melalui agen-agen.

Semenjak saat itulah ia menjadi pengusaha yang berhasil. Sekarang, penerbitan-nya telah menjadi raksasa dan memilki anak cabang di seluruh indonesia.

Ayo Sekarang yang belom Sholat Dhuha #AyoSholat !!!

Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.